Categories
Tokoh Inspiratif

Bermimpi Itu Bebas! Yuk Kenalan dengan Jusmaidi Sahriadi, Anak Tukang Sapu Asal Aceh yang Keliling Dunia Berkat Beasiswa!

Siapapun bebas bermimpi.

Mungkin itu prinsip yang dipegang Jusmaidi Sahriadi, seorang anak tukang sapu asal Aceh yang berhasil memperoleh beasiswa kuliah ke Eropa.

Sejak kecil, mimpi Jusmaidi sering dipandang sebelah mata oleh orang sekeliling tapi ia selalu membuktikan dengan prestasi. Pantang menyerah dan patuh kata orang tua mungkin salah satu kuncinya meraih mimpi.

Jusmaidi sempat psimis tidak bisa melanjutkan kuliah sarjana karena tidak ada biaya. Mamaknya hanya bekerja sebagai tukang sapu yang penghasilannya kadang tidak cukup untuk biaya sehari-hari.

Namun, untungnya ada beasiswa yang mengakomodasinya kuliah di jurusan akuntansi, Universitas Syiah Kuala, Aceh.

Saat kuliah, ia sempat mendapatkan undangan mengikuti acara leadership di Filipina. Jusmaidi rela menyisihkan uang dan menabung untuk membuat paspor.

Pada tahun 2017 Jusmaidi berhasil mendapatkan beasiswa Erasmus+ untuk shortcourse di Italia.

Bermimpi Itu Bebas! Yuk Kenalan dengan Jusmaidi Sahriadi, Anak Tukang Sapu Asal Aceh yang Keliling Dunia Berkat Beasiswa!
Jusmaidi berhasil mendapatkan beasiswa Erasmus+ untuk shortcourse di Italia di tahun 2017.

Pada tahun 2018, Jusmaidi juga mendapatkan beasiswa untuk ikut winter course di Vilnius University, Lithuania.

Tak hanya itu, ia telah mengikuti beberapa konferensi internasional di Eropa dan Asia. Jusmaidi juga menjadi pembicara di acara talkshow inspiratif berskala nasional serta memenangkan beberapa kompetisi menulis.

Dalam beberapa tulisannya, Jusmaidi pernah sama sekali tidak punya uang untuk memperpanjang visa, sampai-sampai ia harus meminjam uang temannya. Namun, pertolongan justru datang dari para tetangga di kampungnya.

Jusmaidi menuliskan potongan-potongan kisah inspiratifnya di akun Instagram @jusmaidi_

Siapa nih yang sudah baca beberapa kisahnya?

 

Categories
Tokoh Inspiratif

Inilah Muhammad Zulfikar Rakhmat, Korban Bully Sejak SD yang Jadi Doktor Muda Lulusan University of Manchester!

 

Tidak pernah terpikirkan sebelumya kalau Kak Zulfikar akan sampai di titik seperti sekarang.

Terlahir dalam kondisi kurang sempurna, Kak Muhammad Zulfikar Rakhmat harus menjalani hari-hari yang menyakitkan selama di sekolah dasar.

Ia tidak diterima di sekolah umum karena ia menderita Asphyxia Neonatal, yakni kelainan pada syaraf yang menyebabkan ia tidak bisa bicara normal dan menulis.

Saat itu, ada 1 sekolah yang akhirnya menerimanya. Namun, karena kondisinya, ia jadi korban bullying oleh teman-teman sekolahnya.

Tiap datang ke sekolah, yang ia pikirkan adalah caranya agar selambat mungkin sampai sekolah dan secepat mungkin sampai rumah.

Jahitan demi jahitan di kepala akibat benturan bertambah tiap harinya.

Namun, cerita pedih di masa lalu itu yang menempanya menjadi sosok kuat seperti sekarang.

Lulus SMP, Kak Zulfikar dan keluarga pindah ke Qatar. Di sana, ia merasa lebih dihargai dan mendapat banyak dukungan dari temannya.

 

Inilah Muhammad Zulfikar Rakhmat, Korban Bully Sejak SD yang Jadi Doktor Muda Lulusan University of Manchester!
Muhammad Zulfikar Rakhmat berhasil mendapatkan gelar doktor bidang politik di University of Manchester di usia 26

 

Saat kelulusan, Kak Zulfikar mendapatkan nilai terbaik dan lolos kuliah di Qatar University dengan beasiswa!

Saat itulah turning point di hidup Kak Zulfikar. Inilah saatnya Kak Zulfikar merealisasikan harapannya untuk membantu orang-orang di sekitar.

Tuhan selalu memberikan kesempurnaan, katanya.

Kak Zulfikar berhasil mendapat nilai terbaik saat kelulusan. Bahkan ia mendapat perhatian langsung dari dunia internasional dan penghargaan langsung dari Raja Qatar!

Di usia 23 tahun, Kak Zulfikar telah menulis lebih dari 100 artikel yang tersebar di sejumlah media internasional. Ia juga kerap jadi pembicara untuk memperjuangkan hak kaum difabel.

Di usia 26, Kak Zulfikar berhasil mendapatkan gelar doktor bidang politik di University of Manchester dan menjadi pengajar di salah satu perguruan tinggi di Jogja!

Kak Zulfikar juga aktif memperjuangkan hak kaum-kaum difabel, salah satunya dengan dengan mendirikan Sekolahbilitas.

Categories
Tokoh Inspiratif

Pilih Tinggalkan Karir dan Kuliah di Usia Belia, Begini Awalnya Alyssa Soebandono Bisa Kuliah di Monash University!

 

Siapa sangka kalau di usia yang relatif muda, Alyssa Soebandono sudah berani mengambil langkah untuk belajar ke luar negeri.

Wanita yang sekarang berstatus sebagai istri aktor Dude Herlino ini dikenal dari beberapa sinetron di tahun 2000-an, seperti Bayangan Adinda, Inikah Rasanya? Upik Abu dan Laura, dan masih banyak lagi!

Pada tahun 2008, saat umurnya belum genap 17 tahun, Alyssa sudah lulus dari SMA melalui program International Baccalaurate, yaitu program 2 tahun yang memberikan kualifikasi internasional bagi para lulusannya.

Tidak mudah untuk Alyssa mengambil keputusan itu karena saat itu sebenarnya karirnya sedang sangat cemerlang loh!

Ia terpacu untuk membuktikan pada orang-orang yang memandang sebelah mata kalau ia tidak serius sekolah karena berstatus selebriti.

 

Pilih Tinggalkan Karir dan Kuliah di Usia Belia, Begini Awalnya Alyssa Soebandono Bisa Kuliah di Monash University
Di usia yang relatif muda, Alyssa Soebandono sudah berani mengambil langkah untuk belajar ke luar negeri.

 

Saat berangkat ke Australia pun Alyssa sebenarnya masih memiliki kontrak kerja di Indonesia, tapi untungnya Monash University bekerja sama dengan Jakarta International College. Jadi, ia bisa menjalani perkuliahan tahun pertama di JIC sambil menyelesaikan kontrak kerja.

Di tahun kedua perkuliahan, Alyssa baru benar-benar berangkat ke Australia.

Pada tahun 2011, Alyssa terpilih sebagai duta dari Monash University untuk mengikuti pertukaran pelajar di Sussex University di Brighton, Inggris selama 6 bulan.

Saat itu Alyssa tinggal seorang diri ke Inggris tanpa bantuan saudara dan siapapun.

Pengalaman itulah yang menempanya menjadi pribadi yang mandiri dan mengajarkan banyak hal kepadanya.

Sepulang dari Inggris, tahun 2012 Alyssa berhasil lulus dari Monash University di usia yang sangat belia, yaitu 19 tahun!

Alyssa bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menerima pendidikan di luar negeri yang nanti akan berguna untuk bekal kesuksesan pastinya.

Waah, siapa disini yang ngefans sama Alyssa Soebandono nih?

Categories
Tokoh Inspiratif

Jadi Perempuan Pertama yang Diterima di Badan Ilmu Pengetahuan Bergengsi Australia, Profesor Cerdas Asal Indonesia Ini Baru Saja Dapat Bintang Kehormatan Loh!

Ternyata ada banyak loh orang Indonesia yang berprestasi di luar negeri. Salah satunya adalah wanita asal Medan yang baru saja dapat penghargaan berkat jasanya di bidang teknologi partikel. Namanya Profesor Rose Amal.

Setiap tahun, pemerintah Australia memberikan penghargaan kepada 35 orang yang dianggap berjasa di bidangnya masing-masing.

Ibu dua anak ini diberi penghargaan atas atas perannya sebagai role model dan mentor perempuan di bidang sains. Profesor Rose Amal juga pernah masuk dalam jajaran insinyur paling berpengaruh di Australia.

 

Jadi Perempuan Pertama yang Diterima di Badan Ilmu Pengetahuan Bergengsi Australia, Profesor Cerdas Asal Indonesia Ini Baru Saja Dapat Bintang Kehormatan Loh!
Rose Amal diberi penghargaan atas atas perannya sebagai role model dan mentor perempuan di bidang sains

 

Selulus SMA, Profesor Rose Amal memang sudan belajar di Australia. Ia melanjutkan studi Teknik Kimia di Universitas New South Wales. Setelah lulus S1, ia ditawari beasiswa untuk meraih gelar doktor.

Setelah lulus S3 dan mendapatkan gelar doktor, ia bekerja di Australian Nuclear Science Technology Organization sebelum akhirnya melepas karir dan memilih bekerja di bidang akademik dengan menjadi dosen di Universitas New South Wales.

Profesor Rose Amal diketahui menjadi insinyur perempuan pertama yang diterima di badan ilmu pengetahuan bergengsi Australian Academy of Science looh!

Semoga Profesor Amal Rose bisa balik ke Indonesia buat menularkan ilmunya ke kita semua ya!

 

Categories
Tokoh Inspiratif

Pernah Sekolah Tanpa Alas Kaki dan Numpang Belajar di Rumah Kepala Desa, Begini Perjalanan Pratikno sampai Jadi Menteri Sekretaris Negara!

 

Tidak ada yang menyangka kalau mantan rektor UGM yang saat ini menjabat sebagai salah satu menteri di kabinet kerja Joko Widodo ini pernah menjalani masa sekolah yang penuh keterbatasan.

Pratikno kecil tinggal di sebuah desa yang dikelilingi hutan jati dan lahan tembakau, tepatnya di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro. Desanya bahkan belum teraliri listrik di tahun 1990.

Saat itu, karena tidak ada satupun gedung sekolah, ia dan ke-13 temannya harus belajar di rumah kepala desa. Lulus SD, dari ke-13 teman lainnya cuma Pratikno yang melanjutkan SMP.

Lokasi SMP yang berjarak 20 km dari kampungnya mengharuskan Pratikno hidup mandiri dengan tinggal di kos.

Pernah Sekolah Tanpa Alas Kaki dan Numpang Belajar di Rumah Kepala Desa, Begini Perjalanan Pratikno sampai Jadi Menteri Sekretaris Negara!
Pratikno kecil tinggal di sebuah desa yang dikelilingi hutan jati dan lahan tembakau. Tidak ada gedung sekolah dan listrik.

 

Setelah lulus SMP, ia melanjutkan sekolah SMA di Kota Bojonegoro. Lulus SMA, Pratikno kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintah di Fisipol UGM. Meski hidup serba pas-pasan sebagai anak kos, Pratikno tetap berprestasi. Ia aktif dalam beberapa kelompok diskusi dan mulai rajin mengirimkan beberapa tulisan ke beberapa media terkemuka.

Honor yang didapat dipakainya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Selulus dari UGM dan jadi pengajar, Pratikno meneruskan pendidikan S2 di Department Development Administration, University of Birmingham, UK di tahun 1989-1991.

Tak puas hanya lulus S2, Pratikno melanjutkan S3 di bidang Ilmu Politik, Flinders University of South Australia dari 1992-1996.

Karirnya mulai cemerlang semenjak ia dipilih sebagai Dekan FISIP UGM. Ia juga menjadi salah satu moderator debat capres tahun 2009, tim seleksi KPU, dan Bawaslu.

Tahun 2012 ia diangkat menjadi rektor UGM. Belum habis masa jabatannya, pada tahun 2014 ia dipilih oleh Joko Widodo menjadi menteri sekretaris negara masa bakti 2014-2019.

Waaah, jadi kata siapa anak desa yang jauh dari semua akses informasi tidak bisa berhasil dalam studi dan karir?

Siapa yang mau ngikutin jejak Pak Pratikno, nih?

Categories
Tokoh Inspiratif

Pernah Punya Cita-Cita Jadi Perajin Wayang Kulit, Ini Dia Keteladanan yang Patut Kita Contoh dari Boediono!

Sederhana dan lebih banyak mendengar.

Sebagai seorang mantan wakil presiden, Boediono adalah sosok yang pantas dijadikan teladan karena kesederhanaanya.

Boediono lahir di Blitar Jawa Timur, 76 tahun lalu. Ia menghabiskan masa kecilnya sampai SMA di Blitar.

Ayahnya adalah seorang penjual kain batik, Boediono kecil pernah bercita-cita jadi perajin wayang kulit.

Selulus SMA, Boediono melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada. Namun karena dapat tawaran beasiswa ke Australia, ia akhirnya memilih pindah kuliah sarjana di jurusan ekonomi, University of Western Australia.

Selanjutnya ia menyelesaikan master di bidang ekonomi di Monash University, Australia.

 

Pernah Punya Cita-Cita Jadi Perajin Wayang Kulit, Ini Dia Keteladanan yang Patut Kita Contoh dari Boediono!
Dibalik prestasinya yang cemerlang, Boediono memilih hidup sederhana di rumah pribadinya dan enggan memakai fasilitas negara


Setelah lulus magister, ia memperoleh gelar doctor of philosophy dari Wharton School, University of Pennsylvania.

Lulus S3, dia menjabat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi UGM.

Beberapa jabatan penting yang pernah diemban oleh Boediono sebelum jadi wakil preaiden antara lain Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan, dan Gubernur Bank Indonesia.

Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong, ia berhasil membawa Indonesia lepas dari bantuan dana moneter internasional.

Di kabinet tersebut, ia bersama Menteri Koordinator Perekonomian dijuluki ‘The Dream Team’ karena mereka berhasil menguatkan stabilitas makroekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari krisis moneter.

Dibalik prestasinya yang cemerlang, Boediono memilih hidup sederhana di rumah pribadinya. Ia enggan memakai fasilitas dari negara.

Saat naik haji dia memilih pakai uang sendiri. Saat menghadiri kunjungan ke beberapa tempat ia memilih memakai pesawat komersil di saat pejabat lain memilih memakai jet pribadi.

Waah, siapa nih yang ngefans sama Pak Boediono?

 

Categories
Tokoh Inspiratif

Yuk Kenalan dengan Belva Devara, Pemuda Cerdas Peraih Sejumlah Penghargaan Internasional karena Gebrakannya di Bidang Pendidikan!

Siapa yang tidak kenal dengan Ruangguru?

Kalau kamu tahu Ruangguru pasti kamu tidak asing dengan pendirinya, yaitu Belva Devara.

Adamas Belva Syah Devara atau akrab dengan sebutan Belva Devara adalah pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1990.

Belva adalah salah satu co-founder layanan pendidikan berbasis teknologi yang mengakomodasi kebutuhan pelajar Indonesia.

Bersama temannya, Iman Usman, Belva telah berhasil merevolusi akses pendidikan di Indonesia melalui Ruangguru.

Yuk Kenalan dengan Belva Devara, Pemuda Cerdas Peraih Sejumlah Penghargaan Internasional karena Gebrakannya di Bidang Pendidikan!
Sejak SD sampai SMA, Belva memang terkenal sebagai siswa yang cerdas. Oleh karena itu, ia tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk sekolah karena dapat beasiswa.

Sejak SD sampai SMA, Belva memang terkenal sebagai siswa yang cerdas. Oleh karena itu, ia tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk sekolah karena dapat beasiswa.

Tahun 2008, ia melanjutkan studinya di Nanyang Technological University (NTU) dengan beasiswa penuh dari pemerintah Singapura.

Selama kuliah di NTU, Belva meraih beberapa penghargaan tertinggi karena prestasinya meraih GPA tertinggi dan nilai tertinggi tiap semester di jurusannya.

Belva juga masuk dalam Double Dean List yaitu kelompok mahasiswa berprestasi yang mendapat kesempatan menjalani program pertukaran studi di Inggris.

Tahun 2013-2016, Belva memutuskan berkuliah di Amerika Serikat. Ia adalah orang Indonesia pertama yang diterima di program master ganda di beberapa kampus seperti Stanford University, MIT, Harvard Law School, Harvard Graduation School of Education, dan Harvard Medical School.

Saat itu, Belva mendapat pembiayaan studinya secara penuh dari LPDP.

Ia juga telah menginisiasi berbagai kegiatan sosial selama 4 tahun kuliah di Amerika Serikat.

Karena prestasinya, Belva telah dinobatkan sebagai salah satu tokoh muda berpengaruh oleh Forbes Magazine. Belva juga menerima penghargaan nasional dan internasional atas kepemimpinannya membangun Ruangguru.

Saat ini Belva aktif menjadi pembicara di forum nasional dan internasional looh!

Waah, masih muda sudah menginspirasi sekali yaa!

Siapa yang mau mengikuti jejaknya?

Categories
Tokoh Inspiratif

Berawal dari Kegemarannya Baca Serial Harry Potter, Begini Perjalanan Iman Usman Belajar ke Negeri Paman Sam dan Mendirikan Ruang Guru!

Muda, berjiwa sosial, dan punya segudang prestasi.

Siapa yang tidak kenal dengan Iman Usman?

Pemuda asal Padang ini adalah salah satu co-founder, layanan pendidikan berbasis teknologi, Ruangguru.

Bersama sahabatnya Belva Devara, Iman Usman berhasil membuat terobosan baru untuk mengefektifkan pembelajaran siswa di Indonesia.

Ternyata sejak kecil Iman suka dengan serial Harry Potter. Hal ini yang mendorongnya untuk ikut forum online dari berbagai belahan dunia. Dari forum ini, Iman Usman terus melatih skillnya berbahasa Inggris.

Sejak kecil, Iman sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia kerelawanan dan pengembangan masyarakat. Di usia yang relatif muda ia menerima berbagai penghargaan mulai dari nasional sampai internasional.

Lulus SMA, Iman Usman melanjutkan studi ke FISIP UI. Pada 2009, ia berhasil mendirikan Indonesia Future Leader. Mulai saat itu ia selalu aktif menjadi pembicara di berbagai forum internasional.

Usai menamatkan studinya di UI, ia mendapatkan pembiayaan penuh untuk kuliah S2 di Columbia University.

Beberapa penghargaan yang diterima Iman sejak kecil antara lain penghargaan pemimpin muda Indonesia oleh presiden Indonesia, penghargaan United Nation Youth Assembly Recognition, penghargaan Mandialogo Junior Ambassador for Intercultural Dialogue oleh DAIMLER dan UNESCO, siswa berprestasi Sumatera Barat tahun 2008 dan Mahasiswa berprestasi utama UI dan tingkat nasional tahun 2012.

Ia juga dinobatkan sebagai Global Shapers of World Economic Forum 2013, Forbes 30 Under 30 Asia, UNICEF Young Innovator to Watch 2015, dan masih banyak segudang penghargaan lain!

Waah, siapa yang setuju Iman Usman jadi calon pemimpin bangsa di masa depan nih?

 

Categories
Tokoh Inspiratif

Selamat! Iqbal Ramadhan Akhirnya Diterima di 4 Kampus Bergengsi di Australia!

Lulus dari United World College, Amerika Serikat di pertengahan Mei 2018 lalu, Iqbal Ramadhan, aktor sekaligus mantan personel CJR ini dikabarkan ingin melanjutkan studinya ke luar negeri.

Kabarnya, saat ini, Iqbal sudah diterima di 4 kampus bergengsi di Australia, yaitu Australian National University, The University of Melbourne, Monash University, dan University of New South Wales.

Iqbal Ramadhan akhirnya menjatuhkan pilihannya di Monash University.

Meskipun karirnya tengah cemerlang, Iqbal tetap menomorsatukan pendidikan. Ia mengaku sudah apply kuliah di dalam dan luar negeri.

Saat ditanya jurusan apa yang mau diambil, pria yang sukses dalam perannya sebagai Dilan ini mengaku ingin masuk jurusan yang sesuai keinginannya, bukan paksaan dari siapapun.

Waah selamat ya Iqbal!

Semoga diberi kelancaran dalam studinya!

Categories
Tokoh Inspiratif

Sekolah dari Baghdad Sampai Eropa, Yuk Kenalan Lebih Dekat dengan Bapak Pluralisme Sekaligus Guru Bangsa Abdurrahman Wahid!

Sekolah dari Baghdad Sampai Eropa, Yuk Kenalan Lebih Dekat dengan Bapak Pluralisme Sekaligus Guru Bangsa Abdurrahman Wahid!
Abdurrahman Wahid ternyata sempat belajar Islam di beberapa negara Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Sederhana, cerdas, dan kritis. Mungkin tiga kata tersebut yang ada di benak orang-orang untuk menggambarkan Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur.

Mantan presiden Indonesia ke-4 ini lahir di Jombang, 7 September 1940. Gusdur lahir dari keluarga muslim terhormat di Jawa Timur. Kakeknya adalah pendiri Nahdlatul Ulama dan ayahnya adalah mantan aktivis gerakan nasionalis dan menteri agama saat masa pemerintahan Soekarno.

Dari SD sampai SMP Gus Dur sekolah di Jakarta, kemudian pindah ke Jogja. Lulus SMP, Gus Dur pindah sekolah pesantren ke Magelang. Di tahun 1959 ia pindah sekolah ke pesantren Tambakberas Jombang.

Empat tahun kemudian, ia menerima beasiswa dari departemen agama untuk kuliah di Al Azhar. Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikannya. Gus Dur lalu pindah di Universitas Baghdad dan lulus di tahun 1970.

Ia telah membaca hampir semua buku yang ada di universitas tersebut. Ia rajin mengunjungi makam milik wali. Disinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya.

Setelah lulus dari Baghdad, Irak, ia berencana kuliah ke Universitas Leiden tetapi karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui, ia memutuskan untuk belajar keliling kampus ke Jerman dan Perancis. Selama 6 bulan di Eropa, Gusdur mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa.

Untuk memenuhi biaya hidup selama disana, tiap minggunya Gus Dur pergi ke pelabuhan untuk membantu membersihkan kapal tanker.

Sebelum kembali ke Indonesia, Gus Dur juga sempat mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas McGill Kanada. Namun, ia lebih tertarik melihat perkembangan dunia pesantren di Indonesia.

Kembali ke Indonesia, Gus Dur memulai karir di lembaga penelitian, mengurus pesantren, menjadi jurnalis, dan terjun ke dunia politik.

Meskipun tidak menyandang gelar doktor, beberapa calon doktor dari Australia justru meminta Gus Dur untuk mengoreksi dan membimbing disertasinya.

Gus Dur telah melahirkan banyak tokoh moderat dan pelopor toleransi di Indonesia. Para pengagum Gus Dur ini menyebut dirinya Gusdurian.

Waah, siapa nih sobat Inspira yang ngefans sama Gus Dur?