Mimpi Sang Pahlawan Pendidikan Berkursi Roda

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat besar, terdapat sekitar 17.000 pulau dengan persebaran luas sekitar 7,81 juta kilometer persegi dan menjadi tempat tinggal bagi sekitar 260 juta penduduk yang hidup di dalamnya. Kebutuhan sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia sangat diperlukan dalam membangun bangsa yang besar ini.

Pembangunan sumber daya manusia tentulah memerlukan sumber daya manusia berkualitas lainnya. Hingga saat ini, permasalahan mengenai pemerataan tenaga pengajar masih terjadi di Negri Indonesia tercinta ini, baik dalam segi kuantitas dan kualitas.

Sebutan bagi guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan, baik pada zaman dahulu maupun pada era millennial sekalipun. Masih banyaknya jumlah guru honorer, pengajar sukarela dan kegiatan sosial mengajar di pedalaman Indonesia menjadi bukti bahwa julukan pahlawan tanpa tanda jasa layak diberikan kepada mereka yang berdedikasi dan perduli terhadap pendidikan di Indonesia.

Dr. Siti Rahmi Utami, S.T., M.M., M.Phil. – seorang Doktor lulusan Belanda dan merupakan seorang penyandang disabilitas – yang mungkin satu dari banyak orang yang berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan. Semangatnya dalam menuntut ilmu tidak perlu ditanyakan lagi, walaupun berkebutuhan khusus, beliau sangat semangat dan tetap ingin terus berkompetisi dan tidak menganggap dirinya memiliki keterbatasan dan ia sangat percaya bahwa setiap orang memilki keterbatasan, sehingga tidak alasan untuk menyerah.

 

Mimpi Sang Pahlawan Pendidikan Berkursi Roda

Siti Rahmi Utami berhasil meraih penghargaan Best-Researched Doctoral Dissertation di Maastricht School of Management, Belanda.

Setelah mendapatkan penghargaan disertasi terbaik (Best-Researched Doctoral Dissertation) di Maastricht School of Management, Belanda. Beliau kembali ke Indonesia dengan harapan bahwa ia dapat menjadi bagian daripada pembangunan sumber daya manusia di Indonesia dan berharap bahwa kedepannya anak-anak Indonesia dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik. Saat ini beliau merupakan seorang Dekan Fakultas Ilmu Ekonomi dan Ilmu Sosial di Surya University, Tangerang. Surya University sendiri merupakan universitas swasta yang berdiri pada tahun 2013, didirikan oleh pahlawan pendidikan lainnya yaitu Profesor Yohanes Surya – Fisikawan Indonesia, pendiri TOFI dan berhasil mendidik sejumlah siswa hingga membawa pulang puluhan medali emas dari olimpiade fisika internasional (IPhO).

Perjuangannya menjadi seorang guru dapat dibuktikan ketika tempat dimana ia mengajar terbentur dengan beberpa permasalahan yang cukup pelik, seperti yang dilansir oleh Tempo.co (24/07/2017), bahwa diberitakan Surya University ditinggalkan oleh dosen dan mahasiswanya dikarenakan permasalhan finansial. Berbagai macam isu mulai beredar, baik mengenai gaji dosen yang belum dibayarkan dalam waktu yang cukup lama, hingga isu pengambil alihan Yayasan yang menaungi Surya University oleh pihak lain. Banyaknya isu-siu yang beredar tersebut membuat banyak Dosen dan Mahasiswa yang berhenti dan memilih pindah. Namun, Ibu Siti tetap memilih bertahan.

Ibu Siti tetap menjabat sebagai Dekan dan tetap mengajar seperti biasanya ditengah banyaknya rekan kerjanya yang mengundurkan diri. Permasalahan tersebut terus berlanjut ketika Fakultas Ekonomi dan Sosial yang dipimpinnya kekurangan tenaga pengajar, sehingga beliau memutuskan untuk mengisi beberapa mata kuliah yang sebelumnya dipegang oleh rekan kerjanya yang sudah mengundurkan diri.

Beliau adalah sosok yang disiplin, penyabar, selalu ingin membantu orang lain dan memilki jiwa kompetisi yang sangat tinggi. Ibu Siti selalu tepat waktu dan selalu menyempatkan dirinya untuk menghadiri pelbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasi mahasiswa yang ada dibawah pengawasannya, terlebih beliau selalu memberikan motivasi untuk terus berkarya melaluli publikasi jurnal, lomba, maupun kegiatan lainnya.

Ditengah isu kampus yang terus memanas, walaupun banyak dosen yang mulai sering mengeluh, Ibu Siti terus berusaha mencoba menguatkan para mahasiswa dan rekan kerjanya untuk terus percaya dan terus fokus pada apa yang harus difokuskan. Beliau selalu menjadi penenang dan sumber kekuatan bagi yang lain, walaupun sebetulnya kami pun sebagai mahasiswa percaya bahwa beliau menghadapi permasalhan yang sama sulitnya dengan para rekan-rekan lainnya. Pada suatu kesempatan beliau mengatakan bahwa apa yang beliau lakukan adalah semata-mata ingin mengabdi dan tidak ingin meninggalkan para mahasiswa yang masih tersisa, beliau melanjutkan bahwa akan sangat disayangkan jika ia pergi meninggalkan para calon pemimpin bangsa yang sedang berjuang dan memiliki semangat belajar yang tinggi seperti kalian (mahasiswa). Ibu Siti terus bertahan dan tetap berpegang teguh pada cita-cita untuk mengabdi dan menjadi bagian dalam mencerdaskan anak bangsa. Saat ini beliau masih terus mengejar mimpi-mimpi lainnya, terus melakukan publikasi untuk mengejar gelar Profesornya.

Dari kehidupan yang beliau jalani, kita bisa mengambil banyak sekali pelajaran untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan percaya pada diri kita sendiri. Setiap orang memilki permasalahan dan keterbatasannya masing-masing, sehingga siapapun memilki kesempatan yang sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terlebih lagi, menjadi orang pintar mungkin sangat membanggakan, namun akan lebih baik ketika menjadi pribadi pintar dan bermanfaat untuk orang lain dan kehidupan yang ada di sekeliling kita.

 

~ siapapun bisa menjadi pahlawan bagi orang lain ~

 

Ditulis oleh: M. Nur Ikhsan Mubaarak

(pemenang give away penulisan artikel Hari Pendidikan Nasional 2019 yang diadakan oleh Inspira Solution)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *